Rabu, 02 September 2015

Pertama vs Pemenang

Ini tentang pilihan antara dua hal yang poin pembandingnya tidak seimbang karena salah satunya tidak pernah membiarkanku membuat beralih terhadapnya. Hanya dengan mengucapkan kata yang mengindahkan perasaanku tak akan pernah bisa membuatku menggenggam sebuah harapan bersamanya. Ini tentang kesederhanaan yang kuharap bisa mengalihkanku. Tentang ketaatan terhadap penciptanya yang bisa membuaku juga taat. Tentang salat yang sering kutinggalkan bisa kulengkapi setelah mengenalnya juga tentang kesyukuran yang sering luput menjadi senantiasa kulisankan karenanya.

Helaan nafas memberi sedikit pemaknaan. Melihat sorot keduanya. Nyaris membuatku tak bisa membaca ketajamannya. Yang saya dapati hanyalah kesesuaianya dengan satu hal. Sesuatu yang lainnya yang ingin kutemukan dari sorot itu tak ada. Ini bukan petanda apa2 kecuali yang berkaitan dengan keseriusan. Hal yang terpaut dengan kata pertama dan pemenang. Pertama selalu punya tempat tersendiri, tapi pemenanglah yang menguasai.

Kusebut dia pertama karena alur membuatnya demikian. Bagaimana tidak seorang yang semestinya kusebut sebagai pemenang telah mundur di tengah perjalanan tanpa ada usaha apa pun. Tak mesti membanting tulang dan merobohkan benteng untuk membuatku menunnggu cukup harapan yang dijaga dengan baik. Bahkan, tak ada syarat apa pun yang mesti diperuntukkan. Tapi, biarlah karena takdir pencipta sudah demikian.

Hingga hari saat pemenang datang, dia memang datang tanpa lawan. Karena kerendahan hatinya aku mampu menaikkan kepalaku tuk melihatnya. Memberanikan diri mengangkat kepala setelah tunduk diam dari yang pertama. Inilah alur yang sudah ditentukan.

Senin, 09 Februari 2015

Aku atau Dia

Aku atau dia?
Aku tidak bisa jawab
Aku atau dia?
Aku tidak tahu
Aku atau dia?
Bahwa jawabannya adalah pikiranmu jga terhadap diriku
Aku atau dia?
Bahwa aku hadir di sini bukan tidak mungkin hanya sebagai teman
Aku atau dia?
Bukankah sudah jelas?
Aku atau dia?
Kita sama takut td saling sapa sama lain
Aku atau dia?
Kita sama-sama khawatir
Aku atau dia?
Bisu, hanya tatapan tajam
Aku atau dia?
Bukankah penjelasanku semua sufah cukup?
Aku atau dia?
A k u  a t a u  d i a? Jawabanku tak seperti yg kau pikirkan jd aku butuh jawaban aku atau dia?
Aku atau dia?
Aku bertanya kalai kau?
Jawabanku berdasarkan jawaban aku atau dia?

Cinta Tak Pernah Berkata

Aira, 2008 telah berlalu sekian lama. Kini 2015 dengan harapan yang begitu banyak. Andi adalah bagian dari 2008 yang tak pernah pupus dari ingatannya. Mungkin itu semua terjadi karena komunikasi mereka yang tak pernah pupus. Jarak dan waktu, serta status tak mengubah semua tentang mereka. Alurnya masih apit. Suatu ketika Aira dan Andi bertemu. Mereka berencana nonton bareng. Hanya kebetulan komunikasi mempertemukan bahwa keduanya sedang ingin menghilangkan penat yang ada. Demikian lah penggambaran pertemuan tuk sehari mereka. Sesampainya di lokasi tujuan.
"Kita nonton apa mas?"
Pertanyaan singkat Aira tertuju tuk Andi. Setelah menatap keempat papan judul yang terbingkai, Andi seolah bingung. Ada satu judul yang menyita perhatiannya.
"Ada yang sesuai dengan suasana serta kondisi kita ne mba"
Sambil berbisik dengan senyum yang tertahan.
Studio 2 lebih sesuai dengan cerita mereka. Tiket sudah dikantongi, mereka pun mencari tempat duduk yang tepat untuk menunggu waktu yang tersisa.

Tak lama kemudian, bunyi khas sebelum pengumuman terbukanya pintu studio. Obrolan mereka segera terhenti. Aira menghentikan games yang dimainkan. Berdiri dan bergegas menuju pintu studio dua. Mereka berdua bergegas beriringan. Setelah memasuki studio bioskop, Aira tampak mengecek sekitaran. Orang yang sudah menduduki tempatnya masing-masing. Ada perasaan aneh, takutnya ada yang mengenali mereka. Mereka jalan berdua setelah lima tahun tak ada situasi yang mempertemukan berdua. Film dimulai, Andi mengungkapkan sesuatu yg sebelumbya tak pernah disangka oleh Aira akan didengarnya kembali. Ini seperti musim yang sama yang dia rasakan 2010 silam. Ini seolah waktu yang berulang baginya. Pikiran Aira mrlayang sejenak. Imajinasinya melayang jauh entah kemana. Ada hal yang membuatnya takut, ada hal yang menempati hatinya. Duduk berdampingan dengan sang mantan dengan menonton film "Mantan Terindah". Pikirannya tak pernah tenang sepanjang film diputar. Dia bertanya kenapa kita kembali bertemu seperti ini?
Jawaban yang diperolehnya pun hanya entahlah.

Selasa, 13 Januari 2015

Bangkitlah Kamu

Hai
Apakah lelahmu tak kunjung datang?
Karena tiadanya usaha
Kaukah itu yg berbalut malas
Sedang untuk hal diri sendiri saja masih enggan
Bukankah kau petangguh?
Tunjukkan tangguhmu
Kepalan semangatkah yg menjadi laskarmu?
Sedang menerobos penghalang setipis kertas saja tak mampu
Hai...
Tak ingin rasanya mendengar ocehmu
Keluhmu itu bukanlah perjuangan
Bangkit
Bangkit
Bangkit segera

Jumat, 09 Januari 2015

Belajar dari Pengalaman

Kehidupan berjalan tak pernah lepas dari masalah.  Susah dan senang datang silih berganti. Banyak hal yang dimengerti karena telah melalui masa-masa tertentu. Banyak hal yang hadir berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Melihat sisi lain dari hal yang tidak menyenangkan sekali pun. Mengambil hikmah dari setiah masalah yang dihadapi. Belajar memang tidak mesti harus duduk manis di kelas memperhatikan pengajar menjelaskan karena ilmu yang lebih bermanfaat justru bisa kita peroleh dari pengalaman yang kita lalui dalam kehidupan sehari-hari. Semenjak memori bisa merekam segala hal yang telah dilalui maka semenjak itu banyak hal yang dapat kita pelajari. bahkan kesulitan sekali pun akan mendatangkan hal yang berarti.

Kamis, 13 November 2014

Polisi vs Mahasiswa

Kembali mendapati potret yang tak seharusnya ada. Polisi, penyayom masyarakat dan mahasiswa, kaum intelektual bangsa. Ketika tindakan anarkis memberikan potret anarkis. Siapa yang harus disalahkan. Akan ambigu rasanya jika menyalahkan aparat atau menyalahkan mahasiswanya. Lantas, bagaimana polemik ini harusnya ditanggapi? Masing-masing pihak mungkin saja akan menyalahkan pihak lawan. Garis tebal untuk kata 'menyalahkan'. Tak akan ada titik penyelesaian yang real hanya dengan saling menyalahkan satu sama lain. Kemudian dari sisi awam masyarakat sebagai warga negara Indonesia, polisi vs mahasiswa bukankah akan mengarah pada penodaan karakter antara keduanya? Polisi akan ditanggapi. Mahasiswa akan ditanggapi. "Polisi untuk masyarakat" akan menjadi kata yang tak memertahankan maknanya. "Teriakan hidup mahasiswa, hidup rakyat" akan menjadi teriakan yang dipertanyakan untuk rakyat yang mana?.

Selasa, 11 November 2014

Hai

Hai,
Ingatkah kau
Sapaan yang membuka cerita?
Saat menjadi pengagum melelahkan
Saat menulis tentangmu yg tak acuhkan
Saat merasakan yg tak tersampaikan
Saat melihat dari kejauhan

Kaukah?
Yang membuatku mondar mandir di sekolahan
Membuatku ingin tahu?

Kau si cuek yg tak menarik
Kau adalah kau
Datang dan jangan pernah pergi

*pemilik analogi yg tak kumengerti