Senin, 03 Maret 2014
Selasa, 14 Januari 2014
Selamat Datang Jingga
Selama ini aku kerap sekali menulis tentang violet dan guratnya, tapi ketika ini aku mulai cerita baru tentang jingga yang selalu menghampiri hari-hari kini. aku ingin memasukkan cerita tentang rona jingga yang selalu kutemui menjelang petang dan menyambut fajar dalam hari-hari yang kulewati.
aku kerap tersenyum dengan cibiran manja menyambutnya datang menyapaku dengan rona lembut. Aku bahkan kadang mengimajikan asa setinggi-tingginya menerawang langit lepat yang tiada batas. Mungkin itu adalah kebiasaanku yang membuatku ingin menyebutkan sang jingga dalam ceritaku.
Violet tak lagi memanjakanku dengan untaian-untaian yang kian samar dan kini terbitlah Jingga dengan ceritanya yang penuh suka cita.
Kumulai alur ketika sepoi ingin dengan lembut memperkenalkan suaramu yang dengan santun menyapaku dengan indah. Dengan lembut memberiku pemaknaan baru yang sebelumnya belum pernah kudapatkan selama ini, Dengan nada pelan kau mengenalkanku suatu untaian yang sebelumnya tak pernah kudapati guratnya.
Dengan lisan yang tak biasa, dan dengan tingkahmu yang sederhana aku terpijkat. Terpikat melihat sesuatu yang menghadirkan kebanggaanku. Hingga aku pun mencoba tuk mengguratkan jingga itu.
Selamat datang jingga selamat datang untaian yang baru.
x
Selasa, 31 Desember 2013
jingga di pelupuk mataku adalah mentari yang hampir tenggelam, tapi saat itu aku tidak sadar besok akan selalu terbit matahari untukku. sehingga kusebut DIA adalah judul
Untuk orang
yang kucintai, aku menemukanmu dan menunjukkan setia karena cerita sebelumnya
yang mengajarkanku apa yang akan kulakukan hari ini.
Sempat tuk
memiliki terhalang oleh sesuatu yang tak mendekatkanmu. Sesuatu itu adalah hal
yang membuatmu semakin jauh. Narasi yang diawali september enam tahun yang
lalu, saat keadaan mengajariku untuk mengagumi. Saat keadaan menjelaskan padaku
bentuk pemuja rahasia itu bagaimana. Saat aku tahu bahwa diriku sedang jatuh cinta.
Cerita itu berawal pada pengakuan pandangan pertama darimu di bawah pohon yang
rindang. Dibawah guguran daun-daun kering. Pada saat aku duduk di bangku
melingkar bawah mangivera indica. Saat aku tak tahu dan tak ingin tahu tentang
dirimu. Semua berawal dari kala mentari menanjak tinggi di atas kepala langkah
rutinitas kami. Aku dan mereka. Kamu yang kusebut pada bagian ini bukan kamu
kekasihku tapi kamu sebelum kekasihku. Kamu adalah seorang yang
memperkenalkanku perasaan terhadap lawan jenis. Kamu ingin kusebut si cuek itu.
Dan kamu di sini adalah nama yang pernah banyak kutuliskan pada
lembaran-lembaranku. Kamu yang memperkenalkanku dengan dunia cerita yang tak
berujuk. Selanjutnya kusebut kamu adalah pangeran kesiangan yang berkudakan
langkah pelan. Selanjutnya kusebut kamu matahari kesiangan karena menyinariku
belakangan sesaat semua kuupayakan sendiri tuk menghasilkan cahaya itu sendiri.
Selanjutnya lagi kuperkenalkan kamu adalah nama. Nama kamu adalah ama. Ama
kusebut dengan panggilan aku masih ada.
A>M>A
Ama ini
kusebut bagimu bagi pelaskar nama itu sebelumnya
Karena ku
impikan bahwa laskarmu memang senantiasa merujuk pada kebenaran
Kamu akan
tetap ada dan pernah surut
Laskarmu
adalah bagian dari perasaanku yang selalu tumbuh dan tiada pernah mati dan
binasa oleh masa
Oleh
realita, dan oleh ketidakberpihakan
Aku masih
ada adalah kau yang mewujudkan keberadaan diriku yang sesungguhnya
Keberadaan
yang berawal pada sesaat setelah sahur 2008
Ashur
pertama tanpa bersama keluarga
Keadaan
sendiriku
Kala itu
dering yang membangunkanku bersumber dari nomor 085xxxxxx
Kurang lebih
demikian
Saat selalu
ada imbox dan deringan misterius yang meyita banyak waktu tidurku
Dengan
alasan bulan berkah, keadaan akan berberkah jika diawali menyulam cerita yang
indah
Aku masih
ingat caraku
Dengan
singkat dan mengambang
Y a
Y tambah a
Ya
Saat suaramu
memintaku untuk mengulangnya
Ya
Maka
berawallah subuh 05 itu hari kesebelas bulan september lima tahun yang lalu
Waktu itu
waktu yang mengawali ceritaku. Cerita sebelum kutemukan kekasihku Irfandy dia
sebut dirinya,
Untuk,mu Ama
Mulai ku
kenal dan hingga akhirnya kumiliki hatimu
Itu bukan
sembarang kebetulan yang singkat karena kita adalah satu
Satu raga
Satu jiwa
Jiwaku
mengikuti langkahmu hingga senantiasa kuceritakan
Setiap
menjelang senja aku selalu sibuk menguntai sajak tuk kirim di inboxmu
Agar kau
bisa membaca sapaan dariku meski jarak membentangi kita
Kemudian
menjelang waktu istirahatmu kusiapka pula untaian untuk mengantar tidurmu agar
kau senanatiasa mengingatku
Dan
Diwaktu
fajar menyingsing, kembali aku ingin menjadi orang pertama yang menymbut pagimu
dengan puisi cinta kekasihku
Karena aku
selalu ingin menuliskan apa pun tentangmu
Dan kata apa
pun untuk kau baca
Karena
dengan demikian aku merasa sangat dekat meski sejauh mata memandang kau bahkan
tidak nampak
Aku ingin di
sisimu
Itu kalimat
sempat kuucapkan sebulum badai membawamu pergi dan memperkenalkanmu dengan
amnesia
Sehingga
segala tentangku kau tenggelamkan dalam tempat sampah masa lalu
Padahal
seyogianya aku masih diriku yang dulu
Babak
pertama masih belum jelas letak konfliknya
Sampai kau
rela melepaskanku tanpa kata untuk menahan dan
membiarkanku berlalu
Pergi….
Kau
melepaskan genggamanmu yang begitu erat
Bahkan
ketika aku berbalik pun
Berbalik
menolehku
Pandanganmu
tak lagi diarahku
Entah apa
yang tidak ada dan kurang pada diriku
Aku
melangkah dengan kalut
Berselimut
keringat dingin karena ketidaksanggupan memikul beratnya berlalu dari 24 bulan
kaya “ya” itu
Aku ingin
tersandung
Ingin tahu
bagaimana kau melihatku
Ingin tahu
uluran tanganmu menyokongku tersandung
Tapi aku
berusaha menarik nafas yang terengah-engah itu
Melangkah
dengan pengharapan
Kau
memanggil namaku
Memanggilku
Aku telah
mempersiapkan skenario indah itu karena ku pikir
Apa yang
bissa kusebut cinta itu ada pada pelupukmu.
Ada pada
matamu
Ada pada
hatimu
Dan ada pada
pikiranmu
Aku segera
ingin berbalik memelukmu meski kau hanya memanggil namaku
Aku semakin
jauh
Melangkah
kaki
Kau hanya
diam, tak ada kata, tak ada ekspresi
Entah kau
terpukul dengan pengajuan pisah yang kuajukan
Atau memang
malah menyenangkan hatimu dengan sesuatu yang sebenarnya kau inginkan dari awal
Aku berlalu,
menyimpan perasaanku yang membuncah terhadapmu
Aku ingin
segera di kamar
Menuliskan
semua itu
Aku ingin
segera menagis, meluapkan sakit
Aku ingin
Ingin kau
tahu
Ingin kau
tahu bahwa aku menguji cintamu
Tapi tetap
uji itu memang tak membuktikan perasaan dalammu yang menginginkanku tuk tetap
ada dihatimu
Berlau
dengan untaian kata yang kurangkai hingga
tahun keenam sejak mengenalmu
Pasti kau
tak akan menyangka itu
Kuharap ada
penyesalan yang bisa terbersit pada pelupukmu karena hal yang telah kau lakukan
kala itu
Mengharap
langkahmu penuh penghayatan untuk pilihan salahmu
Semoga
matamu kembali terbuka kelak saat langkahku enggan menghampirimu lagi
Semoga
telingamu mendengarkan hatimu memarahi pilihan salah yang membuatmu masuk pada
lubang yang gelap itu
Semoga pula
perasaan tak tenang karena kekeliruannya menghapus namaku yang terdiri atas dua
kata menjadi satu kata
Semoga yang
demikian itu akan menyadarkanmu dan membuatmu mengerti arti hadirku selama enam
tahun tanpa terpahami dan tanpa tersadari oleh kenyataan yang kau jalanai
Aku ingin
bisa menjadikan cerita itu cerita antara raga dan rasa yang telah terkubur
karena tak terhiraukan oleh waktu dan setitik sempatmu
Karena kau
telaah ditenggelamkan oleh antagonis yang mematikan rasa ikhlasmu akan
kata-kata rindu itu
Aku ingin
kamu kembali meyelami samudra bahteraan yang kupertahankan agar tetap indah
Dan aku
ingin suatu saat kau menyesalah senjata perusak pribadimu yang sesungguhnya
Kini kau
menjadi orang lain
Kini kau
pergi tenggelam dalam kelam lagi gelap
Kau memilih
meninggalkan cahayaku
Hingga
keberpalingnmu itu menjenuhnya tenggang menunngguku yang terhitung sejaak 2007
silam
Kau sungguh
tak tahu dan tak pernah ingin tahu segala prhatian yang kucurahkan
Hingga aku
menumukan sesuatu yang baru dan bernilai lebih ketimbang A>M>A
Kamu tengah
tertunduk suatu saat nanti
Ketika
melihatku dengan gandengan yang membuatmu silau
Karena kau
tak pernah ada penghargaan pada sisi rasaku terhadapmu
Kini sesi
selanjutnya dunia baruku
Aku dilihat
oleh seorang asing sedang menangisimu
Hingga
langkahnya menghampiri setahun tanpa mengharap apapun hingga saat kau benar-benar
menenggalamkan diri dalam dnia asing yang melenakan sesaat
Ketika itu
kau akan meneteskan air mata melihatku tersenyum cemerlang bersamanaya
Dia yang
menyeka air mataku karena menagisimu
Dia yang
meminjamkan bahunya saat kau mencampakkanku
Dia yang
selalu menyempatkan waktunya untukku saat kau sedang siibuk dengan duniamu
Dia yang
selalu memberikan perhatiannya saat kisah kita tandus akan perhatianmu
Dia yang
selalu memberiku kecerahan saat layu tak terawat olehmu
Dia yang
selalu membuatku tersenyum ketika sedih karenamu
Hingga semua
berbalik aku menderapkan langkahku ke arahmu. Aku mulai melangkah pelan menuju
arahmu dan mulai mengerem langkahku untuk lanjut menghampirimu
Akhirnya aku
berhenti dan berbalih pada cahaya yang dibawanya untukku
inilah 1808 tak berujung
Sabtu, 27 April 2013
Idadada (Ini dalam Dikau dan Temaram)
1.
Jika ada kesempatan yang berpihak pada kemungkinan terbacanya semua yang tertulis tentang violet-violet itu, sang Violetta tak akan mampu mendapatkan pengertian itu. Pemahamannya tentang banyu biru yang sarat akan persahabatan melenggang mendekati panas yang telah memusnahkan kelembutan pada sisi yang selalu melukiskan segala tentangnya. Dia laksana kehilangan bidadarinya bahkan laksanana kehilangan dirinya sendiri. Atas nama kabar angin yang berhembus dari pribadinya menerbangkan sendiri diri itu hingga semua sekitarannya tampak bisu dan tak bisa berucap lisan lagi karena segalanya memang telah memberi penanda padanya. Dirinya pun dia ingkarkan pernah menyadari hal tersebut. Ketika itu daku hanya bisa terdiam menatap dan memberanikan diri membaca masa yang telah berlalu.
2.
Menilik cerita antara bintang dan mentari yang terpisahkan oleh waktu. Banyak leraian yang terlewatkan masa. Tentang keadaan yang berbalik arah. Seakan berbalik arah dari alur dan orbitnya. Jauh pelupuk mata tertinggal oleh kenangannya. Tak lagi bisa kembali mengorbit. Segalanya hanya mendatangkan kemurkaan yang tak berbalaskan. Mentari itu terbenam kala itu. Tapi esoknya akan terbit kembali. Kali dia membenamkan diri dengan cara yang berbeda. Hingga pagi kala terbitnya. Kehadirannya tak sehangat dulu lagi. Samar samar menyembunyikan gurat.
3.
Aku tak pernah lelah untuk Violettaku kecuali ini. Dan tak pula daku lengah tuk tak melihat ceritanya kecuali kali ini. Aku jauh dari kisarannya. Aku bahkan tak dapat lagi melihatnya. Peraduanku benar-benar beranjak dari pijakannya. Aku kalah oleh cerita yang kuceritakan. Hanya bisa melepas genggamanku yang menarik keberanjakanmu.
4.
(na na na) suara yang terdengar pekat dan berat. Berat melantunkan irama yang sendu. Penjuru barat bergeming, bergelut dengan cibiran. Penjuru timur menyatu dengan pekat iri atas kemenangan kelam. Penjuru timur murung tiada senang yang menahkodai. Penjuru selatan terkurung oleh muram yang menghadirkan cela masam. Na na na nada yang tak terdengar. Nada yang terus terbisik tapi tak sendu tak padu dan tak baru. Lama tapi tak teringat lagi. Na na na jauh dalam hati. Jauh tak terdengar lewat lisan. Na na na hanya sebuah cerita dan maya.
5.
Edisi bintang ufuk barat yang tak lagi mengorbit pada malam kali ini. Bintang yang kalap akan medannya. Kemudian, ketika ingin menyapa mentari yang kan terbit dari ufuk timur, sinar yang menghangatkan itu seakan tak bermakna. Mentari itu hanya menatap tajam dan tak menyapa dengan senyum seperti kala itu. Maka harus ada edisi baru yg harus terleraikan. *
***bersambung***
Jika ada kesempatan yang berpihak pada kemungkinan terbacanya semua yang tertulis tentang violet-violet itu, sang Violetta tak akan mampu mendapatkan pengertian itu. Pemahamannya tentang banyu biru yang sarat akan persahabatan melenggang mendekati panas yang telah memusnahkan kelembutan pada sisi yang selalu melukiskan segala tentangnya. Dia laksana kehilangan bidadarinya bahkan laksanana kehilangan dirinya sendiri. Atas nama kabar angin yang berhembus dari pribadinya menerbangkan sendiri diri itu hingga semua sekitarannya tampak bisu dan tak bisa berucap lisan lagi karena segalanya memang telah memberi penanda padanya. Dirinya pun dia ingkarkan pernah menyadari hal tersebut. Ketika itu daku hanya bisa terdiam menatap dan memberanikan diri membaca masa yang telah berlalu.
2.
Menilik cerita antara bintang dan mentari yang terpisahkan oleh waktu. Banyak leraian yang terlewatkan masa. Tentang keadaan yang berbalik arah. Seakan berbalik arah dari alur dan orbitnya. Jauh pelupuk mata tertinggal oleh kenangannya. Tak lagi bisa kembali mengorbit. Segalanya hanya mendatangkan kemurkaan yang tak berbalaskan. Mentari itu terbenam kala itu. Tapi esoknya akan terbit kembali. Kali dia membenamkan diri dengan cara yang berbeda. Hingga pagi kala terbitnya. Kehadirannya tak sehangat dulu lagi. Samar samar menyembunyikan gurat.
3.
Aku tak pernah lelah untuk Violettaku kecuali ini. Dan tak pula daku lengah tuk tak melihat ceritanya kecuali kali ini. Aku jauh dari kisarannya. Aku bahkan tak dapat lagi melihatnya. Peraduanku benar-benar beranjak dari pijakannya. Aku kalah oleh cerita yang kuceritakan. Hanya bisa melepas genggamanku yang menarik keberanjakanmu.
4.
(na na na) suara yang terdengar pekat dan berat. Berat melantunkan irama yang sendu. Penjuru barat bergeming, bergelut dengan cibiran. Penjuru timur menyatu dengan pekat iri atas kemenangan kelam. Penjuru timur murung tiada senang yang menahkodai. Penjuru selatan terkurung oleh muram yang menghadirkan cela masam. Na na na nada yang tak terdengar. Nada yang terus terbisik tapi tak sendu tak padu dan tak baru. Lama tapi tak teringat lagi. Na na na jauh dalam hati. Jauh tak terdengar lewat lisan. Na na na hanya sebuah cerita dan maya.
5.
Edisi bintang ufuk barat yang tak lagi mengorbit pada malam kali ini. Bintang yang kalap akan medannya. Kemudian, ketika ingin menyapa mentari yang kan terbit dari ufuk timur, sinar yang menghangatkan itu seakan tak bermakna. Mentari itu hanya menatap tajam dan tak menyapa dengan senyum seperti kala itu. Maka harus ada edisi baru yg harus terleraikan. *
***bersambung***
Minggu, 24 Maret 2013
Goresan Bergeming
selama ini tak ada sesal yang melumatkan keras yang bertahta pada sisi antagonisnya
Sekian kali, sekian waktu saat aku selalu menggambarkan gurat-gurat itu dengan pencitraan antagonis pada sisinya.
wahai gundah ketika kau tak mampu mengatasnamakan sabar untuk melawan sedih gulana yang menggumpal pada pikiran dirimu atas terpaan api lidah dari sang antagonis yang memang merebut keberpihakannya dari sisimu maka dendangkanlah satu kata kemenangan yang tak mampu dia tepiskan. Antagonis itu hanya bagian kekalahannya. ketika dia menggunakannya sebagai senjata yakinlah sesaat kemurkaan itu akan mengarungkan kehidupannya sendiri sehingga luput dari kekokohannya. Dia akan runtuh dengan sendirinya.
Kala itu, keberpihakannya akan kembali pada sisi yang mampu bertahan dengan kebaikannya.
Dera itu adalah kata
kata yang mengikat leher hingga nyaris tak mampu bernafas
bernafas dengan lega
karena semua itu hanyalah bagian ilusi yang tak bertuan
amarah yang memarahi pribadinya sendiri
menenggelamkan kekuatan yang ada pada dirinya
diamlah
semua keberpihakan mengarah padamu
Sekian kali, sekian waktu saat aku selalu menggambarkan gurat-gurat itu dengan pencitraan antagonis pada sisinya.
wahai gundah ketika kau tak mampu mengatasnamakan sabar untuk melawan sedih gulana yang menggumpal pada pikiran dirimu atas terpaan api lidah dari sang antagonis yang memang merebut keberpihakannya dari sisimu maka dendangkanlah satu kata kemenangan yang tak mampu dia tepiskan. Antagonis itu hanya bagian kekalahannya. ketika dia menggunakannya sebagai senjata yakinlah sesaat kemurkaan itu akan mengarungkan kehidupannya sendiri sehingga luput dari kekokohannya. Dia akan runtuh dengan sendirinya.
Kala itu, keberpihakannya akan kembali pada sisi yang mampu bertahan dengan kebaikannya.
Dera itu adalah kata
kata yang mengikat leher hingga nyaris tak mampu bernafas
bernafas dengan lega
karena semua itu hanyalah bagian ilusi yang tak bertuan
amarah yang memarahi pribadinya sendiri
menenggelamkan kekuatan yang ada pada dirinya
diamlah
semua keberpihakan mengarah padamu
Selasa, 05 Maret 2013
Memoar Merah
Musim baru cerita baru pula. Ada terpaan yang melapukkan senja menjadi memor merah enghancurkan warna jingga. Liput sekitaran yang tampak maya .Bernostalgia dengan cerita lama yang telah usang. Memoar merah yang terkait dengan warna-warna lain. Berpadu sehingga menyatukan leraian pertama, kedua, ketiga, dan berikutnya.
Banyak sketsa yang tak sempat berbentuk pada kenyataan itu. Sketsa yang hanya sekadar fiktif dan tak bertuan. Banyak perhatian yang luput dari sisi umum karena yang tampak hanya sisi kecil yang tertutup oleh kabut kehidupan.
Merah itu adalah amarah yang membuncah. Melekat pada sisi antagonis yang kerap mencibirkan kesalahan pemahaman akan luruhnya hati karena bual yang tak kau sangka. Memoar itu bagian kecil pada pelataran cerita. Hanya secuil. Merah itu menyala menyalahkan yang tak seharusnya disalahkan. Merah itu pula berkata dengan ilokusi yang tak tertargetkat. Merah itu lengah pada kenyataan yag tak berpihak. Merah meninggalkan hakikat berani yang sesungguhnya. Berani yang tidak ditempatkan pada tempatnya. Jagoan yang meninggalkan esensi merah yang sebenarnya. Memoarnya kelam, kelam yang pekat dan pahit.
*memoar merah itu akan berlalu
Banyak sketsa yang tak sempat berbentuk pada kenyataan itu. Sketsa yang hanya sekadar fiktif dan tak bertuan. Banyak perhatian yang luput dari sisi umum karena yang tampak hanya sisi kecil yang tertutup oleh kabut kehidupan.
Merah itu adalah amarah yang membuncah. Melekat pada sisi antagonis yang kerap mencibirkan kesalahan pemahaman akan luruhnya hati karena bual yang tak kau sangka. Memoar itu bagian kecil pada pelataran cerita. Hanya secuil. Merah itu menyala menyalahkan yang tak seharusnya disalahkan. Merah itu pula berkata dengan ilokusi yang tak tertargetkat. Merah itu lengah pada kenyataan yag tak berpihak. Merah meninggalkan hakikat berani yang sesungguhnya. Berani yang tidak ditempatkan pada tempatnya. Jagoan yang meninggalkan esensi merah yang sebenarnya. Memoarnya kelam, kelam yang pekat dan pahit.
*memoar merah itu akan berlalu
Gurat Violetta
Gugur dedaunan yang
kuning menutup rumput di sekitar pelataran, tampak tukang sapu yang senantiasa
melaksanakan tugas kesehariannya. Menilik sisi lain, langit kali ini tampak
cerah dengan terik yg mengucurkan peluh pada rutinitas bahkan yang ringan
sekali pun. Tampak jejeran kursi penuh, tentunya dengan kepentingan yang
beragam. Dan daku pun di sini duduk melihat sekitaranku, melihat mereka yang
sedang menjalani rutinitasnya masing-masing. Kuhela nafas biasaku dengan
menghirup dalam2 sembari mengeluarkan ocehan sengit tentang peduliku pada kisah
violetta yg kian hari kian tertinggal waktu. Ingin segera rasanya segenap
pikiran, tenaga dan perasaan ini beranjak dengan meninggalkan kekhawatiran yang
mencuak ini dan mengubahnya menjadi nyata yang mengukir senyum tapi apalah daya
kenyataan tetap berbanding terbalik dengan harap. Jadi selanjutnya mengulang
harapan lagi sampai demikian yang indah dapat merona dan memekarkan senyum.
Menapaki jalan, menyusuri ada di sepanjang gurat Violetta objek yg kutuju kian
samar.
Saat hatiku tak terpahami, sekitarku tiada yang bergeming, bahkan iba akan
lukaku pun tak ada lagi. Ku menengadah pada langit lepas melihat jagad yang
tiada berujung hingga hadir lagi asa-asaku bahwa dunia ini masih begitu luas,
masih banyak tempat yang ingin ku jejaki. Masih banyak hal yang akan kutemui.
Pikiran sempit ini tak sebanding dengan dunia. Bangkitlah kembali pucuk-pucuk
yang mulai layu, hingga memekarkan senyum-senyum sederhana.
Menengadah pada cerita yang kulalui, terlalu banyak pemaknaan yang
kusia-siakan jika menemui kegagalan yang sama. Pengertian akan hakikat hidup
pun samar ketika ku tidak mampu bangkit dan menopang kelemahanku yang telah
mencuak. Saatnya ku hidupkn daya-daya yang bisa menjadikanku kembali
mencibirkan kalimat “hidup itu indah”.
Sejenak kembali melihat sisi lain dari perih, perih itu pula yang
mengajarkanku banyak hal yang bisa membuatku kembali menopanng
segala lemah yang ada pada pribadiku yang kerap kehilangan kekuatan. Bahkan
tatapanku pun kerap tak berdaya ketika menemui kesulitan. Hingga tatapan ak
berdayaku itu kini samar dan muai menunjukkan warna baru. Gelap, samar, dan tak
ada lagi, aku pun terjatuh tak sadarkan diri. Tapi satu hal yang selalu ku tahu
ketika mataku kembali terbuka dan masih diberi kesempatan melihat dunia aku pun
kemballi melihat warna dunia. Masih kutemui merah, jingga, kuning, hijau, biru
dan ragam warna lai yang kan memukau hidup. Gelap dan hitam tak selamanya
menutup dunia yang berwarna. Gelap dan hitam tak selamanya menjadi hantu yang
menghalangi cerah. Gelap dan hitam hanyalah bagian kecil dari kehidupan yang
berwarna.
Tetap melangkah meski
tersandung, tetap melangkah meski terjatuh. Karena setelah tersandung
tetap tak jatuh, dan jatuh pun masih bisa bangkit. Tetap melangkah meski tak
tau jalan. Karena tetap di tempat mustahil meraih tujuan. Tetap melangkah dan
bertanya pada diri, pada hidup, dan pada alam karena jawabannya akan ditemukan
tidak hanya dengan diam di tempat.
Langganan:
Postingan (Atom)



