Jumat, 14 Maret 2014

Kata Tak Bertuan

Kusebutnya sebagai kata tak bertuan karena ku tak dapati  dari mana untaian itu berasal. Yang kutahu untaian itu untukku yang sedang berpikir tentang kehidupan.

Ketika untaian itu tak memetaforakan kata. aku mengerti, aku bahkan tahu dan bisa menginterpretasikan dengan mudah. Hanya saja kenyataannya begitu susah. Susah untuk kuketahui ....

Maaf pemilik untaiannya, aku menulis tentang ini. Kumasukkan pada episode hampir ending











Ku tak bisa menghapus kisah ini.

Ku tak ingin melukai seseorang yang akan menjadi sasaran dari semua.

Ku tetap menjaga ketenanganmu meski kuharus berusaha tunduk hingga waktu itu akan tiba masanya.

Ku tak pernah ingkar

Ku tetap menepati yang pernah kulontarkan

Meski dunia hanya bisa diam melihat kekacauan ini

Waktu segera datang melapas kekacauan itu





****
kelak ketika salah seorang yang membaca tulisan ini, buat aku mengenali kembali siapa dirimu.



Ketika di Bawah Langit Malam (Anadiolakah Tum) *Cerber

Malam ini ada yang ingin kau ketahui. Iya mungkin itu adalah kesalahanku karena tak pernah membuatmu tahu tentang perasaanku yang tidak pernah hilang.
Sayang saya juga tidak mengerti dengan analogimu itu. Saya sama sekali tidak mengerti analogi yang bisa membuatmu mendapatkan jawaban itu dariku. Analogi yang sungguh membuatku bingung ketika kau mencoba mendapatkan sesuatu dibalik saya ada.
“jika kau ingin memberiku makan, apa yang kau inginkan membiarkan saya mengunyah atau membiarkan saya langsung menelan?” itu adalah pertanyaan darimu yang membuat saya begitu terheran-heran dan tidak dapat menerima maksud apa yang sebenarnya dibalik kata-kata itu. Sesungguhnya aku pun  bingung sendiri harus memulai dari mana sebenarnya penjelasanku ini untukmu.
Pertama ingin kuutarakan ketidakenakannya perasaanku yang terseret masuk dalam kisahmu.
“kau menangis tersedu-sedu, dengan penuh isak karena perasaan yang begitu tersiksa dikarena dia sang antagonis yang menyeretmu jauh meninggalkan keadaan yang sebenarnya. Dan membuatmu menyandang gelar seorang munafik. Sebenarnya bersumber dari antagonis itu semua. Kenapa demikian? Iya karena yayng kau katakana didepanku sesungguhnya begitu bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Itu hal yang sebenarnya melandasi saya mengambil sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya kau munafik. Dan terlalu mempermainkan saya dengan kata-kata yang demikian.
Kata-kata yang demikian itu adalah berawalnya permainan, dirimu telah menyeretku masuk. Yang kedua, kau selal dengan lancing mengatakan tentang ketidaknyamananmu dan keinginanmu untuk pergi darinya, tapi hingga sampai detik ini aku sama sekali tak menemukan apa pun bukti benarnya kata-katamu itu.
Ketiga hal yang paling mendasar, berapa banyak temanmu yang telah pergi darimu dan mengembangkan pikiran tentang tabiat yang kau miliki karena sikap antagonis yang sebenarnya? Kau tak pernah sadar atau pura-pura menutup mata tentang semua ini. Kau selalu bilang akan pergi darinya, tapi semakin membiarkan dirimu dalam hal ini justru akan membuatmu semakin jauh dari keinginan untuk beranjak itu. Apalagi yang hendak kau katakana di depanku. Analogi apa lagi ayang akan kau berikan sehingga kau bisa mengerti sesatu yang sebenrnya kuinginkan. Sederhana tak dengannya lagi.
“cinta tak harus memiliki”, demikian esensi cinta ketulusan yag sesungguhnya. Tahukah kamu? Hal yang kau alami saat ini tidak mencerminkan cinta sama sekali, melainkan sebuah keegoisan yang mengikatmu.
Tahukah kamu betapa setiap orang berpandangan bagaimana terhadapmu? Dan tahukah kamu aku tak rela melihatmu diperbudak oleh keadaan yang seperti ini. Dan yang lebih harus kuketahui bahwa perasaanku yang seyigiayanya pernah mencintaimu sekarang pun masih tetap mencintaimu. Apa yang harus ku lakukan agar bisa membuatmu yakin bahwa aku masih mencintaimu. Bahkan, berani kukatakan pada mereka yangmendengarku bahwa ada sisi berbeda yang tak bisa kudapatkan dari siapa pun tentang dirimu. Tapi, jangan sampai semua itu hilang karena keadaan kini yang telah menyangkalnya. Jangan sampai kenyataan menyangkal bahwa saya harus menyimpan perasaan yang demikian terhadapmu.
Apa lagi yang harus kukatakan untuk memetaforakan apa yang kurasakan, karena perlu kau catat aku sama sekali tidak ingin mengatakan yang sebenarnya di depanmu. Aku ingin kau yang mendapatkan semua isyarat itu. Tapi tidak. apakah kau terlalu bodoh. Mungkin ketika kutulis seribu kali kau tidak akan mengerti dengan membacanya atau bahkan membacanya pun tak kau lakukan. Aku sungguh tak mengerti dengan keadaan ini. Keadaaan yang kusebut mempermainkan aku. Keadaan yang membuatku belajar ikut bermain dalam kekonyolan cinta yang tidak dewasa sama sekali.
Cinta yang tak bisa disebut cinta. Karena bukankah yang sebenarnya cinta adalah aku yang selalu ada meski tak pernah kau anggap dan tak pernah kau tahu tentang semua yang kulakukan selaama ini? Bodoh bukan?
Tidak yang lebih bodoh karena kaujatuh pada lubang yang kesekian kali. Dan jangan sampai saya membandingkan kau dengan dia yang kusebut sebagai kekasih, karena sesungguhnya peranmu tak akan mampu menandingi dia sebagai orang yang kusayangi dan kucintai seutuhnya yang berhasil mengalihkan perhatianku dari mencintaimu yang begitu sakit. Yang mengalihkan perhatianku yang mencontaimu yang begitu bodoh. Serta yang mengalihkan perhatianku yang menyayangimu demikian tapi terbalas dan tak dihargai. Apa yang bisa membuatku menandingi dia dank Kau.













Ternyata Dia Superzero bukan Superhero

Duka kehilanngan mulai membuncah, tetapi alur mulai berubah dari sketsa sebelumnya. Aku tak pernah menduga ini sebelumnya. Awalnya kuanggap dia akan tetap menjadi pangeranku. Meskipun hanya pangeran kesiangan dugaanku dia akan tetap bertengger dihatiku. Semua itu hipotesis yang tak dapat kubuktikan kebenarannya karena nyatanya aku telah mengimajinasikan kisah baru dari semua ini. Tidak hanya tersuruk dan kerap mendapat bayangan darinya. Dia dengan  peran pangeran yang melekat dikepalaku bergeser menjadi antagonis yang tak akan kuceritakan di ending pengisahanku dan kehidupanku. Kerajaan yang kubayangkan semulanya yang menghadirkan diriku sebagai ratunya dan dia sebagai rajanya cukup sampai di sini. Cukup sampai pada penjejalan tak berlanjut ini. Berujung pada ketidakpercayaan yang mengakar. Berakhir dengan pengingkaran atas semua janji yang pernah terucap. Tamat bersama cerita yang tak sempat kuselesaikan. Terjawab tanpa jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku. Diam tanpa kata seolah mempermudah semua itu. Alas an tanpa pembelaan atas tuduhan membuat kesatnya jalan yang ditempuh menjadi sangat licin. Demikian pula dengan kata-kata yang kuharap membuatku tuk tetap bertahan pada alurnya yang tak kunjung terucap. Hingga satu pilihan tepat dan pasti aku harus menenggelamkan pulau yang kubangun dengan khayalan yang berending kebahagiaan.
Semua berawal dari terkuaknya pribadi pangeran  kesiangan  yang mempunyai komitmen bercabang. Berawal dari kemelut berkepanjangan yang tidak disikapi dengan bijak olehnya. Hanya beratapkan kepasrahan hingga menyebabkan serangan-serangan meteor semakin mematikan rasa yang ada dan terkiprah. Hanya menggunakan media daun kering untuk melukis namaku dan namanya sehingga sekali kepercayaanku rusak tak bisa kembali. Layaknya daun kering tempat menuliskan nama kami berdua itu adalah kertasnya, dan kepercayaan itu adalah kertas itu. Sekali di genggam hingga kertasnya lusuh, kertas tersebut tak akan mungkin bisa kembali seperti semula. Tak akan rapi seperti semula. Tak akan kembali pula sama persis keadaan sebelumnya. Apalagi ini dia hanya menulis namaku dan namanya di atas daun kering sehingga sekali genggam, bukan hanya lusuh yang menjadi akibatnya. Daun kering telah terberai dan hancur hingga namaku dan namanya tak akan mungkin bisa dirangkai kembali. Semua itu hanya bisa dikenang. Itu pun hanya kemungkinan kecil yang bisa terjadi. Dia bukan lagi superheroku. Dia telah menjelma menjadi superzero setelah mengenal putri antagonis dari negeri seberang. Semua keadaan sekarang berbanding terbalik dengan keadaan sebelumnya yang pernah kualami. Dia yang sekarang bukan lagi dia yang ku kenal dulu. Senyumnya yang dulu menjadi semakin kaku. Tatapannya yang awalnya begitu tajam tanpak hampa tanpa makna apa pun. Hadirnya yang tak ingin melihatku mengeluarkan butir bening dari kedua mata iini dia ingkari. Dia selalu membuatku mengalirkan butir bening pada kedua mataku tanpa ada keinginan untuk menyekaku. Kata maaf yang selalu dipinta ketika secuil salah dia lakukankan padaku tak ada lagi. Dia sama sekali kehilangan kata-kata itu. Dia seakan kehilangan jiwa bijak yang melekat pada dirinya. Langkahnya yang senantiasa mendekatiku tak lagi dia lakukan. Langkah itu semakin menjauh dan ingin pergi dariku. Dia tak lagi mengingatkanku untuk impian-impian yang belum kugapai, dia sama sekali tak memberiku semangat untuk hal-hal yang membuatku jatuh, dia juga tak lagi bias menypkongku ketika erjatuh. Dan yang lebih mengusirku dari sisinya dia tak lagi mencintaiku.
Setiap kata-katanya yang pernah dia lisankan dan terdengar telinga ini berbanding terbalik dengan yang dia lakukan kini. Setiap tulisannya tentangku yang pernah kubaca tidak lagi menunjukkan realita. Kini hanyalah bfiktif belaka.
  
Ini sungguh tidak adil bagiku, dia kembali dengan maksud yang berkedok. Dia memintaku untuk membantunya melakukan hal itu lagi. Memintaku unntuk mengerjakan segala tentang kebutuhan akademiknya. Ini sungguh lucu. Kemana jawaban dan peredam yang membuatku untuk meredam amarahku dan membalut lukaku ketika luka? Kamu hanya diam kan. Hanya mempertahankan kekasih antagonism itu akan mengantarmu pada pintu kehancuran. Dia sama sekali tidak pernah mengerti, tidak pernah memahami hakikat pengorbanan nyang sebenarnya.
Kembali untuk cerita yang sekian dan babak sekian saat kau datang padaku karena alasan telah berpisah dengannya. Lagi-lagi hatiku ditambah kalut dan menemukan penilaian yang begitu sadis tentang kekasih yang selalu membuatmu berbohong padaku. Kali ini dia kembali mengusikku. Mengusikku dengan kata-kata yang lukanya tak terkira. Kau memang tak tahu dan tak pernah tahu, karena dari awal memang tak pernah kau mengerti dan kau pahami. Yang ada hanya pikiran egoismu aku dan dia. Serta perasaan egoismu yang menyimpan namanya serta menyisakan pula sedikit ruang untuk namaku yang pernah memenuhinya. Mungkin kelak malah akan hilang atau tak ada lagi namaku di sana. Miris, entah apa yang akan kutuliskan nantinya jika itu benar-benar terjadi.

Senin, 03 Maret 2014

Puzzle Makan, Suap, Kunyah, Telan

Suatu malam ketika langit tampak gelap tak berbintang juga tanpa rembulan. Pada hawa lembab tanah karena hujan yang baru saja reda. Di bawah cahaya remang lampu jalan kompleks. Hawa dingin pun terasa bukan karena malamnya yang mulai larut, namun karena memang lembab habis hujan yang menyebabkan demikian.

Percakapan pun dimulai ketika itu, percakapan yang menawarkan sebuah analogi yang membuat tidurku tak nyenyak dari pemilik nama aku masih ada. Bahkan sepanjang malam saya berpikir tuk menemukan makna yang ingin disampaikan lewat kata-kata itu. Semua itu bak sebuah puzle yang begitu rumit yang penuh dengan tanda tanya dan misteri yang tak bisa terpecahkan. Saya tak pernah mengerti dengan semua ini. 


Mengawali dari sebuah pertanyaan tentang makan, suap, kunyah, dan telan.
Semenjak mendengar kata-kata itu pekaku untuk memaknai itu sama sekali tak tergambar. Saya sama sekali tak punya bayangan tentang pertanyaan yang mencari jawaban tentang hal yang selama ini kulakukan. ketika saya mulai merangkai, sama sekali samar, sama sekali tak tampak dari nalar dan logis berbagai sisi tak kudapati kata yang bisa membuatku bisa menjawab dengan tegas. 


Beranjak dari pertanyaan itu keingintahuanku untuk sebuah sosok dengan laskar aku masih ada semakin menggebu. Ya aku ingin tahu banyak tentang sosok itu, sosok yang penuh dengan ketidakpastian. Sosok yang menyembunyikan segala hal. Sosok yang melakukan segala hal untuk tujuan yang tak bisa ditebak. Demikian pengantar dalam memulai episode demi episode yang akan berlanjut tentang objek yang kusebut pemilik laskar "aku masih ada". Tanpa jenuh dan tak ada jemu dalam mengguratkan segala sesuatunya. Ini adalah sebuah kisah yang unik yang mengatasnamakan persahabatan, pertemanan, dan percintaan, serta keluarga yang rumit. Rumit karena menyusunnya saja susah apalagi untuk mengerti dan memahami. Saya harap endingnya kelak memberikan alur yang jelas untuk kesekian episode yang telah jadi selama ini. Bukan sekadar kisah yang datar. Ini adalah kisah yang penuh liku, terjangan, dakian, dan tikung.
Pertanyaan makan, suap, kunyah, dan telan yang masih menjadi pertanyaan sepanjang episode nanti. Dengan nada keingintauanku kujawab dengan segara "Bisakah kau berkata tanpa menggunakan analogi yang begitu membingungkan?". Sedikit kutangkap inti yang masih belum bisa mewakili keempat kata tadi bahwa buat apa aku melakukan hal selama ini untuk orang lain sementara apa untungnya pada diriku? 

Entah apa pula yang akan aku katakan karena sebenarnya esensi dari semua ini tak bisa kujelaskan kecuali kau yang menemukan jawaban yang kau inginkan tersebut. Itu adalah bagian dari kodratku sebagai seorang perempuan.

Selasa, 14 Januari 2014

Selamat Datang Jingga

Selama ini aku kerap sekali menulis tentang violet dan guratnya, tapi ketika ini aku mulai cerita baru tentang jingga yang selalu menghampiri hari-hari kini. aku ingin memasukkan cerita tentang rona jingga yang selalu kutemui menjelang petang dan menyambut fajar dalam hari-hari yang kulewati.


aku kerap tersenyum dengan cibiran manja menyambutnya datang menyapaku dengan rona lembut. Aku bahkan kadang mengimajikan asa setinggi-tingginya menerawang langit lepat yang tiada batas. Mungkin itu adalah kebiasaanku yang membuatku ingin menyebutkan sang jingga dalam ceritaku.
Violet tak lagi memanjakanku dengan untaian-untaian yang kian samar dan kini terbitlah Jingga dengan ceritanya yang penuh suka cita.


Kumulai alur ketika sepoi ingin dengan lembut memperkenalkan suaramu yang dengan santun menyapaku dengan indah. Dengan lembut memberiku pemaknaan baru yang sebelumnya belum pernah kudapatkan selama ini, Dengan nada pelan kau mengenalkanku suatu untaian yang sebelumnya tak pernah kudapati guratnya.
Dengan lisan yang tak biasa, dan dengan tingkahmu yang sederhana aku terpijkat. Terpikat melihat sesuatu yang menghadirkan kebanggaanku. Hingga aku pun mencoba tuk mengguratkan jingga itu.
Selamat datang jingga selamat datang untaian yang baru.

x

Selasa, 31 Desember 2013

jingga di pelupuk mataku adalah mentari yang hampir tenggelam, tapi saat itu aku tidak sadar besok akan selalu terbit matahari untukku. sehingga kusebut DIA adalah judul


Untuk orang yang kucintai, aku menemukanmu dan menunjukkan setia karena cerita sebelumnya yang mengajarkanku apa yang akan kulakukan hari ini. 
Sempat tuk memiliki terhalang oleh sesuatu yang tak mendekatkanmu. Sesuatu itu adalah hal yang membuatmu semakin jauh. Narasi yang diawali september enam tahun yang lalu, saat keadaan mengajariku untuk mengagumi. Saat keadaan menjelaskan padaku bentuk pemuja rahasia itu bagaimana. Saat aku tahu bahwa diriku sedang jatuh cinta. Cerita itu berawal pada pengakuan pandangan pertama darimu di bawah pohon yang rindang. Dibawah guguran daun-daun kering. Pada saat aku duduk di bangku melingkar bawah mangivera indica. Saat aku tak tahu dan tak ingin tahu tentang dirimu. Semua berawal dari kala mentari menanjak tinggi di atas kepala langkah rutinitas kami. Aku dan mereka. Kamu yang kusebut pada bagian ini bukan kamu kekasihku tapi kamu sebelum kekasihku. Kamu adalah seorang yang memperkenalkanku perasaan terhadap lawan jenis. Kamu ingin kusebut si cuek itu. Dan kamu di sini adalah nama yang pernah banyak kutuliskan pada lembaran-lembaranku. Kamu yang memperkenalkanku dengan dunia cerita yang tak berujuk. Selanjutnya kusebut kamu adalah pangeran kesiangan yang berkudakan langkah pelan. Selanjutnya kusebut kamu matahari kesiangan karena menyinariku belakangan sesaat semua kuupayakan sendiri tuk menghasilkan cahaya itu sendiri. Selanjutnya lagi kuperkenalkan kamu adalah nama. Nama kamu adalah ama. Ama kusebut dengan panggilan aku masih ada.
A>M>A
Ama ini kusebut bagimu bagi pelaskar nama itu sebelumnya
Karena ku impikan bahwa laskarmu memang senantiasa merujuk pada kebenaran
Kamu akan tetap ada dan pernah surut
Laskarmu adalah bagian dari perasaanku yang selalu tumbuh dan tiada pernah mati dan binasa oleh masa
Oleh realita, dan oleh ketidakberpihakan
Aku masih ada adalah kau yang mewujudkan keberadaan diriku yang sesungguhnya
Keberadaan yang berawal pada sesaat setelah sahur 2008
Ashur pertama tanpa bersama keluarga
Keadaan sendiriku
Kala itu dering yang membangunkanku bersumber dari nomor 085xxxxxx
Kurang lebih demikian
Saat selalu ada imbox dan deringan misterius yang meyita banyak waktu tidurku
Dengan alasan bulan berkah, keadaan akan berberkah jika diawali menyulam cerita yang indah
Aku masih ingat caraku
Dengan singkat dan mengambang
Y a
Y tambah a
Ya
Saat suaramu memintaku untuk mengulangnya
Ya
Maka berawallah subuh 05 itu hari kesebelas bulan september  lima tahun yang lalu
Waktu itu waktu yang mengawali ceritaku. Cerita sebelum kutemukan kekasihku Irfandy dia sebut dirinya,
Untuk,mu Ama
Mulai ku kenal dan hingga akhirnya kumiliki hatimu
Itu bukan sembarang kebetulan yang singkat karena kita adalah satu
Satu raga
Satu jiwa
Jiwaku mengikuti langkahmu hingga senantiasa kuceritakan
Setiap menjelang senja aku selalu sibuk menguntai sajak tuk kirim di inboxmu
Agar kau bisa membaca sapaan dariku meski jarak membentangi kita
Kemudian menjelang waktu istirahatmu kusiapka pula untaian untuk mengantar tidurmu agar kau senanatiasa mengingatku
Dan 
Diwaktu fajar menyingsing, kembali aku ingin menjadi orang pertama yang menymbut pagimu dengan puisi cinta kekasihku
Karena aku selalu ingin menuliskan apa pun tentangmu
Dan kata apa pun untuk kau baca
Karena dengan demikian aku merasa sangat dekat meski sejauh mata memandang kau bahkan tidak nampak
Aku ingin di sisimu
Itu kalimat sempat kuucapkan sebulum badai membawamu pergi dan memperkenalkanmu dengan amnesia
Sehingga segala tentangku kau tenggelamkan dalam tempat sampah masa lalu
Padahal seyogianya aku masih diriku yang dulu
Babak pertama masih belum jelas letak konfliknya
Sampai kau rela melepaskanku tanpa kata untuk menahan dan  membiarkanku berlalu
Pergi….
Kau melepaskan genggamanmu yang begitu erat
Bahkan ketika aku berbalik pun
Berbalik menolehku
Pandanganmu tak lagi diarahku
Entah apa yang tidak ada dan kurang pada diriku
Aku melangkah dengan kalut
Berselimut keringat dingin karena ketidaksanggupan memikul beratnya berlalu dari 24 bulan kaya “ya” itu
Aku ingin tersandung
Ingin tahu bagaimana kau melihatku
Ingin tahu uluran tanganmu menyokongku tersandung
Tapi aku berusaha menarik nafas yang terengah-engah itu
Melangkah dengan pengharapan
Kau memanggil namaku
Memanggilku
Aku telah mempersiapkan skenario indah itu karena ku pikir
Apa yang bissa kusebut cinta itu ada pada pelupukmu.
Ada pada matamu
Ada pada hatimu
Dan ada pada pikiranmu
Aku segera ingin berbalik memelukmu meski kau hanya memanggil namaku
Aku semakin jauh
Melangkah kaki
Kau hanya diam, tak ada kata, tak ada ekspresi
Entah kau terpukul dengan pengajuan pisah yang kuajukan
Atau memang malah menyenangkan hatimu dengan sesuatu yang sebenarnya kau inginkan dari awal
Aku berlalu, menyimpan perasaanku yang membuncah terhadapmu
Aku ingin segera di kamar
Menuliskan semua itu
Aku ingin segera menagis, meluapkan sakit
Aku ingin
Ingin kau tahu
Ingin kau tahu bahwa aku menguji cintamu
Tapi tetap uji itu memang tak membuktikan perasaan dalammu yang menginginkanku tuk tetap ada dihatimu
Berlau dengan untaian kata yang kurangkai hingga  tahun keenam sejak mengenalmu
Pasti kau tak akan menyangka itu
Kuharap ada penyesalan yang bisa terbersit pada pelupukmu karena hal yang telah kau lakukan kala itu
Mengharap langkahmu penuh penghayatan untuk pilihan salahmu
Semoga matamu kembali terbuka kelak saat langkahku enggan menghampirimu lagi
Semoga telingamu mendengarkan hatimu memarahi pilihan salah yang membuatmu masuk pada lubang yang gelap itu
Semoga pula perasaan tak tenang karena kekeliruannya menghapus namaku yang terdiri atas dua kata menjadi satu kata
Semoga yang demikian itu akan menyadarkanmu dan membuatmu mengerti arti hadirku selama enam tahun tanpa terpahami dan tanpa tersadari oleh kenyataan yang kau jalanai

Aku ingin bisa menjadikan cerita itu cerita antara raga dan rasa yang telah terkubur karena tak terhiraukan oleh waktu dan setitik sempatmu
Karena kau telaah ditenggelamkan oleh antagonis yang mematikan rasa ikhlasmu akan kata-kata rindu itu
Aku ingin kamu kembali meyelami samudra bahteraan yang kupertahankan agar tetap indah
Dan aku ingin suatu saat kau menyesalah senjata perusak pribadimu yang sesungguhnya
Kini kau menjadi orang lain
Kini kau pergi tenggelam dalam kelam lagi gelap
Kau memilih meninggalkan cahayaku
Hingga keberpalingnmu itu menjenuhnya tenggang menunngguku yang terhitung sejaak 2007 silam
Kau sungguh tak tahu dan tak pernah ingin tahu segala prhatian yang kucurahkan
Hingga aku menumukan sesuatu yang baru dan bernilai lebih ketimbang A>M>A
Kamu tengah tertunduk suatu saat nanti
Ketika melihatku dengan gandengan yang membuatmu silau
Karena kau tak pernah ada penghargaan pada sisi rasaku terhadapmu

Kini sesi selanjutnya dunia baruku
Aku dilihat oleh seorang asing sedang menangisimu
Hingga langkahnya menghampiri setahun tanpa mengharap apapun hingga saat kau benar-benar menenggalamkan diri dalam dnia asing yang melenakan sesaat
Ketika itu kau akan meneteskan air mata melihatku tersenyum cemerlang bersamanaya
Dia yang menyeka air mataku karena menagisimu
Dia yang meminjamkan bahunya saat kau mencampakkanku
Dia yang selalu menyempatkan waktunya untukku saat kau sedang siibuk dengan duniamu
Dia yang selalu memberikan perhatiannya saat kisah kita tandus akan perhatianmu
Dia yang selalu memberiku kecerahan saat layu tak terawat olehmu
Dia yang selalu membuatku tersenyum ketika sedih karenamu
Hingga semua berbalik aku menderapkan langkahku ke arahmu. Aku mulai melangkah pelan menuju arahmu dan mulai mengerem langkahku untuk lanjut menghampirimu

Akhirnya aku berhenti dan berbalih pada cahaya yang dibawanya untukku

inilah 1808 tak berujung

Sabtu, 27 April 2013

Idadada (Ini dalam Dikau dan Temaram)

1.
Jika ada kesempatan yang berpihak pada kemungkinan terbacanya semua yang tertulis tentang violet-violet itu, sang Violetta tak akan mampu mendapatkan pengertian itu. Pemahamannya tentang banyu biru yang sarat akan persahabatan melenggang mendekati panas yang telah memusnahkan kelembutan pada sisi yang selalu melukiskan segala tentangnya. Dia laksana kehilangan bidadarinya bahkan laksanana kehilangan dirinya sendiri. Atas nama kabar angin yang berhembus dari pribadinya menerbangkan sendiri diri itu hingga semua sekitarannya tampak bisu dan tak bisa berucap lisan lagi karena segalanya memang telah memberi penanda padanya. Dirinya pun dia ingkarkan pernah menyadari hal tersebut. Ketika itu daku hanya bisa terdiam menatap dan memberanikan diri membaca masa yang telah berlalu.

2.
Menilik cerita antara bintang dan mentari yang terpisahkan oleh waktu. Banyak leraian yang terlewatkan masa. Tentang keadaan yang berbalik arah. Seakan berbalik arah dari alur dan orbitnya. Jauh pelupuk mata tertinggal oleh kenangannya. Tak lagi bisa kembali mengorbit. Segalanya hanya mendatangkan kemurkaan yang tak berbalaskan. Mentari itu terbenam kala itu. Tapi esoknya akan terbit kembali. Kali dia membenamkan diri dengan cara yang berbeda. Hingga pagi kala terbitnya. Kehadirannya tak sehangat dulu lagi. Samar samar menyembunyikan gurat.

3.
Aku tak pernah lelah untuk Violettaku kecuali ini. Dan tak pula daku lengah tuk tak melihat ceritanya kecuali kali ini. Aku jauh dari kisarannya. Aku bahkan tak dapat lagi melihatnya. Peraduanku benar-benar beranjak dari pijakannya. Aku kalah oleh cerita yang kuceritakan. Hanya bisa melepas genggamanku yang menarik keberanjakanmu.

4.
(na na na) suara yang terdengar pekat dan berat. Berat melantunkan irama yang sendu. Penjuru barat bergeming, bergelut dengan cibiran. Penjuru timur menyatu dengan pekat iri atas kemenangan kelam. Penjuru timur murung tiada senang yang menahkodai. Penjuru selatan terkurung oleh muram yang menghadirkan cela masam. Na na na nada yang tak terdengar. Nada yang terus terbisik tapi tak sendu tak padu dan tak baru. Lama tapi tak teringat lagi. Na na na jauh dalam hati. Jauh tak terdengar lewat lisan. Na na na hanya sebuah cerita dan maya.

5.
Edisi bintang ufuk barat yang tak lagi mengorbit pada malam kali ini. Bintang yang kalap akan medannya. Kemudian, ketika ingin menyapa mentari yang kan terbit dari ufuk timur, sinar yang menghangatkan itu seakan tak bermakna. Mentari itu hanya menatap tajam dan tak menyapa dengan senyum seperti kala itu. Maka harus ada edisi baru yg harus terleraikan. *


***bersambung***