Minggu, 08 Juni 2014

Aku

Ketika waktu telah 7 bulan berlalu. Aku rindu hangatnya mentari, aku rindu hujan yg membasahi kita sepanjang jalan, aku pun rindu bintang yg membuatku menengadah di sepanjang jalan yang macet. Aku rindu senyummu yang selalu membuatku lebih tersenyum lagi. Aku rindu pula dengan marahmu, marahmu yang selalu membuatku minta maaf. Lebih rindu dengan genggaman erat tanganmu yg kerap menyeka air mataku. Ternyata begitu banyak rindu di sini.
Aku bahagia dengan rinduku ini. Dengan ikhlas kulepas violet. Kubiarkan violet itu terbawa angin. Aku tak akan menoleh melihat violet itu terbang ke arah mana karena aku terlalu terbawa rindu.
Aku bernafas lega. Kelegaan yang membuatku mengurungkan jemariku tuk menulis tentang violet meskipun untaian ini juga sebenarnya masih menyebut violet itu.
Aku pun kembali dengan kengan lembaran untaian rindu tanpa violet.
Aku yakin akan terbiasa dengan ini semua. Terbiasa setelah sekian waktu violet memenjarakan jemariku menulis sesuatu selain tentangnya.

Aku pun menjadi aku dengan segala keakuanku. Bukan kau, bukan dia, dan bukan mereka, lebih-lebih bukan violet itu.

Aku tersenyum
Senyum yang begitu teduh
Lapang terasa begitu damai

Aku pun tersenyum
Terbawa
Dan terbang dalam dunia kata
Kata yang kurangkai

Selasa, 20 Mei 2014

Selamat Tinggal Violetta

Untuk violetta yang kuceritakan dengan berbagai versi, saya berterima kasih karena telah membuat saya mengenal keseriusan. Tentu saja buka violetta. Ketika cerita terangkai dengan alur yang susah ditebak, saya dengan hati-hati menemukan sisi yang tak akan bisa didapatkan dengan tak mengenali dan menyelami cerita lebih dalam. Mungkin inilah hikmah yang saya peroleh dengan melarutkan diri pada hal yang memainkan perasaan. Kisah violetta bukan hanya sebatas cerita sederhana seperti riwayat ungu yang terbentik dari perpaduan biru dan merah. Dua warna primer yang mendadikan ungu adalah. Ini adapah jaring-jaring violet dari musim ke musim. Saya awalnya mengira setelah musim violet berlalu. Musim itu tak akan lagi kunamai violet. Tapi ternyata itu adalah sebuah kekeliruan karena kutemui beberapa musim violet dengan kisah yang berbeda. Tapi mungkin cerita yang akan mengalhiri ini adalah cerita yang begitu gersang. Violet tampak dengan kisah yang mengarah pada antagonis. Yang mencuak justru adalah violet dengan segala ketimpangan yang ada sehingga menjadikan sang pelakon yang akan kuharap menjadi jodoh yang dikirim tuhan pemenang mutlak. Violet dengan ingkarnya menunjukkan padaku sosok setia yang sesungguhnya. Violet dengan dustanya membuatku menghargai kejujuran yang menyakitkan kala itu. Dan tingkah aneh sang violet membuatku tahu bahwa lelaki pekerja kerasku adalah sosok yang tiada duanya.

Hingga tuk kisah violetta
Terima kasih telah membuatku tahu.
Terima kasih telah membuatku mengerti
Aku jadi mengerti cinta

Sabtu, 03 Mei 2014

Menilik kamu

Aku mulai melihat sisi lain dari penokohan yang kerap kuceritakan. Aku bahkan terlalu terbiasa menguntai kata dengan penokohan yang terpatri dalam pikitanku. Namun kini, semua seakan tercuak secara perlahan-lahan. Saat senja sorotmu kian padam. Kunanti esok kau dengan pesona yang lebih terang, ternyata salah pula karena kau bahkan tiada terbit lagi.
Saat saya memulai sebuah pertanyaan retoris? Kudapati pula sesuatu yang tak lagi membuatku yakin tentang penokohan yang kubuat.
Akhirnya mungkin inilah musim terakhir tuk violet.
Aku keliru.
Aku hanya bisa diam dan bercerita dengan pikiranku.

Rabu, 19 Maret 2014

Lebih Baiklah dari Harimu Hari Ini

tak perlu lengah
tak perlu lagi bersedih
jangan biarkan gundah mendekapmu
cepatlah beranjak dan bangkit
ini bukan saatnya untuk merasakan sakit
waktunya melawan sakit

Seketika saat jemariku beraksi, mengingat sesuatu dera yang telah dicuakkan sang pelakon. Mengingat luka yang katanya sedang dirasakannya disekujur tubuh. Dan juga ikut merasakan sepi yang diungkapkan pelakon itu dalam derai-derai subuh yang dia suarakan lewat seluler.

Ketika dunia luar masih kabut karena udara dingin yang menyelimuti kota. Pelakon yang menjelang lelapnya karena tekanan tak bisa rehat sesuai waktunya.

mulai hari itu aku hanya ingin mengatakan lebih baiklah dari harimu hari ini.

Jumat, 14 Maret 2014

Hari Ini

Ini adalah hari
hari yang akan datang karena hari kemarin
Hari yang akan berlalu karena hari esok

Hari ini layaknya hari yang sebelumnya
Dicumbu oleh paradoks yang kian mencekik
Hari ini pun adalah hari yang kaku 
Kaku karena perjuangan yang masih secuil

Hari ini juga adalah hari yang mekar
mempersembahkan keindahan
Indah bagi keindahan

Hari ini......
aku menulisnya

Babak Aku Ingin Tahu

Dimikian masa kulewati dengan tersenyum melihat bunga bermekaran, bintang gemerlapan, dan anak-anak berkejar-kejaran. Dunia pada salah satu sisi yang membuatku selalu tersenyum. Sampai pada sebuah titik yang membuatku ingin tahu. Aku mulai dapati hari dari sisi kalut.
Kian hari kisah  kian kalut. Aku mulai merangkai alibi-alibi yang selama ini takkudapatkan. Aku bahkan mulai mendapatkan titik terang yang menghilangkan segala anggapanku selama ini terhadap pangeran kesiangan yang selalu membuatku bangga. Perkataanku tempo hari pada temanku “ada sisi lain pada dirinya yang tak bisa kudapatkan dari siapa pun” seolah setelah saya mengucapkan kata-kata itu keadaan mulai bergeser karena tak kudapatkan lagi yang kucari, tak kutemukan lagi kesungguhan kata-kata itu. Aku mulai bingung sebenarnya kisah ini adalah kisah apa? Kisah violet pun telah bergeser akan kusebut sebagai Sembilan matahari juga telah meninggalkan konflik semua. Atau apakah ini lembaran baru dengan judul baru. Aku masih berpikir sejenak pada diriku sendiri. Tak mengerti dengan semua kata dan tingkah yang selama ini.
Sebenarnya buat apa kata melindungiku itu jika sebenarnya hanya sekadar kata yang malah menusuk? Sebenarnya apa maksud dari definisi yang kau berikan padaku tentang apa yang sebennarnya?
Tantang aku dengan berani! Aku mulai muak dengan keadaan yang mempermainkan dirinya sendiri. Entah alasan apa yang dapat menjawab segala ini. Jawaban apa sebenarnya yang pantas untuk mendeskripsikan tentang semua yang tidak pernah kuketahui. Tentang semua cerita yang ke sana ke mari tertiup badai. Entah dusta atau ini adalah sesuatu yang sebenarnya melenakan atau malah sesuatu yang membuat kau mabuk hingga mata angin pun tak kau kenali. Akhirnya tersesat bukan?
Aku ingin berontak, tapi apa pula alasan yang bisa membuatku melakukannya. Aku ingin pula banyak tahu, tapi siapa pula sebenarnya aku yang bahkan sudah tak bisa kau kenali dengan sorot. Dan terakhir aku ingin pergi dan menghilang, tapi dengan jelas kukatakan aku terlalu jauh masuk dan melangkah begitu jauh, pantang untuk melangkah mundur tuk menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya.
Ini sebenarnya adalah arus yang mnyeretku terlalu jauh hingga nyaris terperangkap dalam penjara. Selama ini aku diam, ternyata diam itu yang menyebabkan spekulasi berlanjut dan berlarut. Aku ingin pula berkata dengan sederhana, tapi ini adalah guratan rumit yang diciptakan oleh kau yang kukenal begitu sederhana.
Selama ini aku tak berkata karena kuberpikir diam adalah intan bagiku, tapi ternyata tidak. diamku tak akan jadi intan tanpa kebenaran. Selama ini aku hanya membaca semua yang tak berkenang itu dari sosok dia yang hadir karena kau dengan menelan ludahku dengan sabar karena anggapan bahwa sesungguhnya yang tak terkenang itu bukan daku, jadi buat apa saya merasakan demikian? Selama ini aku melihat ketidaktimpangan yang kau tabur disebanjang tamanku yang indah, tapi aku hanya diam. Kupikir benih itu akan tumbuh dan bermekaran nantinya, tapi ternyata tidak karena sebenarnya itu adalah tanaman yang malah mengganggu bermekarannya bunga-bungaku.
Aku kembali pada alasan kesabaranku untuk tak mencuakkan tumpukan atau bongkahan ketidaknyamananku terhadap alur yang begitu lancang menyeretku dengan arus yang tak pernah tenang. Alur ini selalu beriak. Sabarku ternyata kembali diuji.
Aku kini ada dengan suaraku untuk kebenaran, aku kini hadir dengan kataku yang pernah tertahan dalam lubuk sabarku.

*bersambung




Kata Tak Bertuan

Kusebutnya sebagai kata tak bertuan karena ku tak dapati  dari mana untaian itu berasal. Yang kutahu untaian itu untukku yang sedang berpikir tentang kehidupan.

Ketika untaian itu tak memetaforakan kata. aku mengerti, aku bahkan tahu dan bisa menginterpretasikan dengan mudah. Hanya saja kenyataannya begitu susah. Susah untuk kuketahui ....

Maaf pemilik untaiannya, aku menulis tentang ini. Kumasukkan pada episode hampir ending











Ku tak bisa menghapus kisah ini.

Ku tak ingin melukai seseorang yang akan menjadi sasaran dari semua.

Ku tetap menjaga ketenanganmu meski kuharus berusaha tunduk hingga waktu itu akan tiba masanya.

Ku tak pernah ingkar

Ku tetap menepati yang pernah kulontarkan

Meski dunia hanya bisa diam melihat kekacauan ini

Waktu segera datang melapas kekacauan itu





****
kelak ketika salah seorang yang membaca tulisan ini, buat aku mengenali kembali siapa dirimu.